Terampil Menulis


Menulis sering menjadi idaman banyak orang. Sayangnya, “bakat menulis” itu ada yang tidak tumbuh di tempat yang subur untuk menulis. Baik di rumah maupun di lingkungan tempat tinggal dan di sekolah, fasilitas untuk mengembangkan “bakat” itu kurang memadai. Yang banyak terjadi ialah kemahiran berbicara sering amat tidak sebanding dengan kemahiran menulis.

Banyak orang yang “pandai dan mahir” berbicara, tetapi amat sulit menulis. Sebaliknya, banyak juga orang yang pandai dan mahir menulis, tetapi sulit sekali baginya untuk berbicara, apalagi untuk berbicara dengan baik dan efektif di depan umum atau menulis dengan baik dan efektif untuk umum. Agar kedua kemahiran itu bisa berjalan dengan baik, diperlukan pemahaman yang baik dan ketekunan berlatih.

Menulis bukan hanya ilmu teoretis, melainkan juga ilmu praktis. Hampir dapat dipastikan bahwa kepandaian dan kemahiran menulis diperoleh seseorang karena ia rajin berlatih, berlatih, dan berlatih menulis. Kecil sekali kemungkinan bahwa kepandaian dan kemahiran menulis diperoleh seseorang karena ia hanya rajin membaca teori menulis. Memang tidak ada yang menyangkal bahwa teori menulis amat penting, tetapi ulet dan rajin berlatih menulis disertai banyak membaca dan ditopang oleh semangat pantang menyerah jauh lebih penting jika seseorang ingin pandai dan mahir menulis.

Seorang calon penulis tidak boleh berputus asa ketika tulisannya ditolak penerbit. Ia harus bersabar serta mau menulis lagi dan menulis lagi karena tulisannya mungkin hanya ditolak oleh penerbit di sini, tetapi mungkin sekali akan diterima oleh penerbit yang ada di sana. Kalau terus dan terus menulis, paling tidak ia telah memuaskan hatinya karena menulis, yang membutuhkan kemampuan, keuletan, kontinuitas, dan kesabaran berlatih itu, ternyata merupakan sebuah wisata batin yang sangat menyenangkan dan mengasyikkan,.apalagi jika suatu saat nanti tulisannya itu ternyata diperlukan dan dihargai orang.