Tangiang ni dainang

Pada bulan Juli 2018, kami mendapatkan berita yang membahagiakan, bahwa anak tertua kami, Ramos AE Situmorang (bang Amos) diterima di salah satu Perguruan Tinggi Negeri di Surabaya.
Sukacita dan syukur kami panjatkan, karena kami selalu mengajarkan anak kami, untuk mendapatkan apa yang dicita-citakan, maka harus berjuang, dalam hal ini belajar dengan bersungguh-sungguh.

Ya…
Dia sudah lakukan itu, walaupun keinginannya melanjutkan pendidikan di kota Bandung, namun Tuhan berkehendak lain yaitu kota Surabaya adalah pilihan Tuhan untuk masa depannya.

Tangiang ni dainang (bahasa Batak) memiliki arti doa Ibu. Judul tulisan itu menggambarkan rasa syukur kami, bahwa Tuhan mendengar doa kami, orang tua kami dan keluarga kami untuk anak kami.

Itu yang kami rasakan hingga saat ini, bahwa doa adalah kekuatan dan hidup dalam Tuhan adalah bersyukur dan penyerahan diri atas kehidupan. Orang tua akan mendoakan anaknya dan anak-anak akan mendoakan orang tuanya.

 

Orang tua Jaman NOW

Membesarkan anak di Jaman NOW, memiliki tantangan sendiri. Bagaimana menjadi orang tua yang tegas, mengajarkan disiplin namun tetap bersahabat terhadap anak-anak.

Ramos AE Situmorang

Anak yang lahir pada bulan September dibulan yang sama dengan bulan kelahiran saya dan bulan pernikahan kami, yang sejak umur 3 bulan sudah ditinggal ibunya bekerja, namun atas kebaikan ibu mertua sampai dengan umur 4 (empat) tahun, ibu mertua ikut menemani dan mengawasi anak kami selagi kami, orang tuanya bekerja. Saya menggeluti dunia kerja sebelum menikah, dan atas dukungan suami, tetap mengijinkan saya tetap berkarir karena menurut dia (suami), dengan bekerja, saya akan lebih bertanggung jawab terhadap anak dan suami. Saya akan lebih banyak mendapatkan informasi dari dunia luar dan berwawasan. Kepercayaan itu yang saya gunakan untuk membuktikan kepada suami dan keluarga bahwa dengan saya berkarir bukan berarti saya lupa akan tanggung jawab saya. Saya memilih berkarir, tidak akan mengorbankan keluarga. Saya dan suami mampu bekerjasama dalam hal – hal yang kami sepakati bersama.

Bukan hal kebetulan bang Amos pada umur 4 (empat) tahun sudah pandai membaca dan bernyanyi. Salah satu cara saya mengajarkan anak membaca disela kesibukan saya bekerja adalah bekerjasama dengan baby sitter dan asisten rumah tangga di rumah. Ini cerita masa kecil bang Amos.

Walaupun kami menggunakan jasa baby sitter dan pembantu rumah tangga namun tidak terlepas dari pengawasan kami.Sejak umur 1 bulan sampai dengan 12 bulan, saya buat diary yang harus ditulis babby sitter, jadwal minum susu, pup (buang air besar) dan mandi serta kondisi lainnya. Buku itu hilang pada saat kami pindah rumah, tapi yang punya adiknya (Bryant Mikha) masih ada dan saya simpan dengan rapih. Cerita tentang adik Bryant nanti ya, ditulisan berikutnya dan akan saya foto diary adik Bryant umur 1 – 12 bulan 🙂

Setelah umur 1 tahun begitu bang Amos bisa berjalan dan berlari, kami sudah mengenalkan huruf dan angka namun dengan cara bermain yaitu mainan anak kami beri label huruf dan angka. Contoh: karena anak kami laki-laki maka kebanyakan mainan adalah mobilan. Mobilan tersebut saya beri stiker yang ditempel dan terlihat dengan huruf dan angka. Stiker/Label saya print dari kantor, ups…maaf ya pak Bos, saya menggunakan fasilitas kantor …hahahaha.

Cara lainnya membuatnya senang dengan huruf dan angka adalah membuat satu sisi dinding rumah kami yang boleh dicorat coret si anak. Dinding tersebut kami lapis dengan lembaran papan putih (whiteboard) dengan ukuran 3×3 meter. Lebar sekali kan?? ini juga mengajarkan anak supaya disiplin, tidak mencoret area lain di rumah. Ketika bang Amos masuk TK Kecil, kami juga sudah mendaftarkan anak tersebut di sekolah musik, makanya saat ini bang Amos mahir bermain piano dan gitar 🙂

Cerita di atas bukan ingin bercerita bahwa kami sudah sukses membesarkan anak, belum…

Karena perjalanan masih panjang dan tidak akan pernah berhenti untuk mengasuh dan membesarkan anak. Anak tetaplah anak bagi orang tuanya semasa hidupnya. Kalimat ini juga yang berkali-kali saya dengar dari Ibu saya, yang selalu mengingatkan saya dalam menjalani kehidupan. Love you mom…

Nasihat orang tua seperti kalung mutiara buat saya dan saya juga tentunya ingin anak saya melakukan hal yang sama.

Tidak pernah berhenti…..

Kami selalu mengajarkan anak-anak, menjadi generasi muda yang bisa belajar untuk terus belajar dan bertumbuh.

Menjadi anak muda, yang menjadi harapan, kami tidak akan pernah berhenti mempercayai mereka, mampu melakukan hal-hal yang sulit untuk mencapai cita – cita atau impiannya, sebagai orang tua, kami tidak akan pernah menyerah pada mereka, mendoakan, mendukung dan mengobarkan semangat mereka.

Karena kami percaya, ketika kita mengajari anak cara bekerja keras, mereka mau berjuang, kita mengajari dia cara menghadapi tantangan dimasa depannya.

Ya — sebagai orang tua jangan pernah berhenti….

DIA hanya sejauh doa

Membesarkan anak Jaman NOW dimana pengaruh tidak hanya hal nyata disekelilingnya namun juga dunia maya, butuh sedikit improvisasi seperti kita menari rock and roll bukan?? LOL

Kami yakin membesarkan anak untuk bertumbuh dalam rahmat dan kebijaksanaan, bukanlah hal yang mudah dan instan, itu ibarat kita menanam pohon yang kita inginkan tumbuh besar, kuat dan kokoh. Untuk seperti itu membutuhkan lebih dari satu dekade.

Acara ucapan syukur kepada Tuhan dan doa keluarga untuk bang Amos.